Monday, July 17, 2017

Fenomena Ibadah Akhir Zaman: Pahala Tergerus Selfie, Narsis, Pamer Ibadah di Media Sosial

Fenomena Ibadah Akhir Zaman: Pahala Tergerus Selfie dan Narsis. Bagi pengguna sosial media baik facebook, twitter, path, instagram, dll apakah Anda pernah melihat teman sosial mediamu mengunggah foto selfie ibadahnya baik ibadah sholat, umroh, haji, sedekah, dll? Atau mungkin Anda sendiri termasuk? Wabah Pamer Ibadah dengan foto selfie dan mengunggahnya ke media sosial tidak dapat dihindari sejak munculnya beragam media sosial tersebut. Sisi lain penggunaan media sosial digunakan sebagai ajang pamer termasuk pamer ibadah, kesuksesan, kekayaan, memberi sedekah, dll. Jika sedikit saja unsur riya di dalamnya akan mengurangi pahala ibadah dan bisa saja menghapusnya. Lain waktu kita akan share Hukum Pamer Ibadah di Media Sosial.

Ibadah Akhir Zaman Selfie Riya
credit: TribunNews.com


Baca Juga:

Rasulullah Saw melalui sabdanya pernah mengingatkan kepada umatnya bahwa “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.

Sahabatpun bertanya kepada Rasulullah saw, “Apa itu syirik kecil, yaa Rasulullah?

Rasulullah saw. menjawab, “Riya' (pamer/ingin dipuji orang lain). Allah berkata bahwa di Hari Kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya' di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?'” (HR Ahmad).

Jika kita memamerkan kegiatan ibadah kita melalui media sosial, maka di akhirat nanti Allah SWT menyuruh kita mencari pahalanya kepada teman atau follower yang Like, Share, dan Comments --dan kamu tidak akan mendapatkannya. Na'udzubillahi min dzalik!

Berikut akan kami bagikan beberapa foto dan gambar yang menunjukkan kegemaran selfie saat beribadah.

Ibadah Akhir Zaman Selfie Riya
credit Instagram.com
Ibadah Akhir Zaman Selfie Riya
credit Instagram.com
Ibadah Akhir Zaman Selfie Riya
credit bantaengkemenag.blogspot.com
Ibadah Akhir Zaman Selfie Riya
credit entreasteclas.blogspot.com




Semoga kita terhindar dari Pamer Ibadah di Media Sosial. Amin...! (www.risalahislam.com).

Monday, June 19, 2017

Pengertian Lailatul Qadar Lebih Baik dari Seribu Bulan dan Kapan Waktunya?

Pengertian Lailatul Qadar Lebih Baik dari Seribu Bulan dan Kapan Waktunya?

Lailatul Qadar , Lailatul Qodar atau Lailah al-Qodr (Arab: لیلة القدر‎) adalah satu malam yang khusus terjadi di bulan Ramadhan. Ingat ya hanya satu malam dalam bulan ramadhan..

Malam Lailatul Qodar juga banyak menyebutnya dengan "Malam Seribu Bulan", yaitu suatu malam yang kebaikannya lebih baik dari seribu bulan.

Malam Keberkahan yang penuh kemuliaan ini disebutkan pada Al-Qur’an dalam surah Al-Qadr sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, dimana pada malam lailatul qadr merupakan malam turunnya Al-Quran, dan malam turunnya malaikat Jibril dan malaikat lainnya ke bumi untuk menebar keselamatan.

Firman Allah SWT dalam Surah Al Qadar (3): 

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ


"Malam kemuliaan (lailatul qadar) itu lebih dari seribu bulan” (QS: Al-Qadar:3).

Pahala ibadah pada malam lailatul qodr dijelaskan dalam hadits:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Barangsiapa yang mendirikan lailatul Qadr karena iman dan mengharapkan pahala (dari Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang lalu.” [HR Bukhari dan Muslim]

Kata qaama (mendirikan) pada hadits di atas dapat diwujudkan dalam bentuk shalat, berdzikir, berdo’a, membaca al-Qur-an dan berbagai bentuk ibadah dan kebaikan yang lain.

Pengertian Malam Lailatul Qodar Qadar
image credit: indowarta.com


Pengertian Lailatul Qadar Lebih Baik dari Seribu Bulan


Lailatul Qadar Lebih Baik dari Seribu Bulan
Terdapat perbedaan pendapat dari para ulama mengenai arti / maksud / tafsir dari sebutan “lebih baik dari seribu bulan” dalam ayat ini.

Ibnu Bathal dalam Syarah Shahih al-Bukhari mengatakan “Maksud dari ‘lebih baik dari seribu bulan’ ialah mengerjakan amalan yang diridhai dan disukai Allah SWT di malam tersebut, seperti shalat, do’a, dan sejenisnya, lebih utama dibandingkan beramal selama seribu bulan yang tidak ada lailatul qadhar di dalamnya.”

Al-Mawardi di dalam kitab tafsirnya An-Nukat wal ‘Uyun menjelaskan penafsiran ulama terkait maksud ayat 3 surat Al Qodar di atas.

Terdapat lima penafsiran populer mengenai maksud “lebih baik dari seribu bulan” yaitu:
  1. Pengertian Lailatur Qadar Menurut Ar-Rabi’
    Lailatul qadar lebih baik dari umur seribu bulan.
  2. Pengertian Lailatur Qodr Menurut MujahidJika engkau beramal di malam lailatul qadar amalannya lebih utama dari pada beramal seribu bulan di selain lailatul qadar.
  3. Pengertian Lailatur Qodar menurut Qatadah
    Lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan lain yang tidak terdapat di dalamnya lailatul qadar.
  4. Pengertian Lailatur Qadar Menurut Ibnu Abi Najih dan Mujahid
    Ibnu Abi Najih dan Mujahid  menyebutkan bahwa Seorang dari Bani Israil suatu saat mengerjakan shalat malam hingga shubuh. Pada waktu paginya, dia berperang sampai sore. Rutinitas ini dilakukannya selama seribu bulan. Lalu Allah SWT mengabarkan bahwa beribadah pada lailatul qadar lebih baik dari amalan yang dilakukan laki-laki tersebut, meskipun selama seribu bulan.
  5. Beribadah pada saat lailatul qadar lebih baik dari kekuasan Nabi Sulaiman dimana selama lima ratus bulan dan kekuasaaan Dzul Qarnain selama lima ratus bulan.

Meskipun ulama terdapat perbedaan pendapat, namun pada hakikatnya semua ulama sepakat bahwa lailatul qadar adalah malam mulia yang sangat baik digunakan untuk beribadah.

Dalam sebuah tafsiran dikatakan, kata “seribu bulan” dalam ayat di atas sebenarnya mengisyaratkan sepanjang hari. Artinya, sampai kapan pun keutamaan lailatul qadar tidak tergantikan.

Mengapa Dinamakan Lailatul Qodar?


Pada malam lailatul Qadar ini, Allah SWT menetapkan (at-taqdiir) semua rezeki, umur, kematian , dan semua peristiwa untuk setahun ke depan, dan para Malaikat mencatat semua ketetapan Allah itu.

Kemulian (al-Qadr), kehormatan, dan suasana malam ini disebabkan oleh diturunkannya (permulaan) Al-Qur-an, atau pada malam ini para Malaikat turun atau turunnya keberkahan, rahmat dan maghfirah pada malam kemuliaan ini.

Orang yang menghidupkan malam ini akan mendapatkan al-Qadr (kemuliaan) yang besar, yang belum pernah dia miliki sebelumnya. Malam ini akan menambah kemuliaannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah SWT berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” [QS. ad-Dukhaan/44: 3]

Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Allah mensifati malam ini dengan keberkahan, karena Dia menurunkan kepada hamba-hamba-Nya berbagai berkah, kebaikan dan pahala pada malam yang mulia ini.”

Maka, lailatul Qadr yang penuh barakah ini mengandung berbagai keutamaan yang agung dan kebaikan-kebaikan yang banyak, di antaranyapada malam mulia Ini dijelaskan semua perkara yang penuh hikmah.

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” [QS. ad-Dukhaan/44: 4]

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma menyatakan, dicatat dari Ummul Kitab pada Lailatul Qadr segala hal yang terjadi pada setahun ke depan berupa kebaikan, keburukan, rizki, ajal hingga keberangkatan menuju ibadah Haji.


Arti Malam Diturunkannya Al-Quran


Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur-an) pada malam kemuliaan.” [QS. al-Qadr/97: 1]

Disebutkan, maksud dari ayat tersebut adalah turunnya al-Qur-an secara sekaligus (dari Lauh Mahfuzh ke langit pertama (Baitul ‘Izzah) pada lailatul Qadr, selanjutnya diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad Saw.

Pendapat lain mengatakan, maksud ayat di atas adalah permulaan turunnya al-Qur-an terjadi pada Lailatul Qadr.

Maksud Malaikat Turun ke Bumi


Allah Ta’ala berfirman dalam surat al-Qadr:

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ

“Pada malam itu turun Malaikat-Malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan.” [al-Qadr/97: 4]

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyatakan: “Banyak Malaikat yang turun pada malam ini, karena banyaknya barakah Lailatul Qadr ini. Para Malaikat turun bersamaan dengan turunnya barakah dan rahmat, sebagaimana halnya ketika mereka hadir di waktu-waktu seperti ketika al-Qur-an dibacakan, mereka mengelilingi majelis-majelis dzikir, dan bahkan pada waktu yang lain mereka meletakkan sayap-sayap mereka kepada penuntut ilmu sebagai sikap penghormatan mereka terhadap sang penuntut ilmu tersebut."

Menurut jumhur ahli tafsir, maksud kata “war-ruuh” adalah Jibril Alaihissallam. Artinya para Malaikat turun bersama Jibril. Dan Jibril dikhususkan penyebutannya sebagai penghormatan dan pemuliaan terhadap dirinya.

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai ter-bit fajar.” [Al-Qadr 5]

Disebutkan berkenaan dengan makna salaamun yaitu, bahwa pada malam ini tidak terjadi munculnya sebuah penyakit, dan tidak ada satu syaitan pun yang dilepas.

Pendapat yang lain menyatakan, makna salaamun adalah kebaikan dan keberkahan. Maka pada sepanjang malam ini yang terdapat hanya kebaikan, tidak ada kejelekan, hingga terbit fajar.

Pendapat yang lain lagi menyebutkan, bahwa maksudnya adalah para Malaikat mendo’akan keselamatan buat mereka yang menghidupkan masjid (ahlul masjid) pada sepanjang lailatul Qadr ini.


KAPAN TERJADINYA LAILATUL QADR?


Jumhur ulama bersepakat bahwa lailatul Qadr ini hanya ada pada bulan Ramadhan dan terjadi di salah satu malam ganjil di 10 terakhir Ramadhan atau antara malam 21 s.d. malam ke-29 Ramadhan.

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.

“Carilah lailatul Qadr pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” [HR Bukhari]

Begitu perhatiannya Rasulullah Saw terhadap sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau beri’tikaf di masjid, dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.

Baca Juga: Keutaman dan Manfaat Sahur

[Sumber: Risalah Islami dari Amalan Dan Waktu Yang Diberkahi, Dr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir/muslim.or.id/islamqa.info].*

Friday, June 9, 2017

MasyaAllah, Keutamaan Dan Manfaat Sahur Ini Banyak Yang Belum Tahu

Keutamaan dan Manfaat Sahur


Banyak penelitian dilakukan untuk mengkaji keutamaan puasa. Salah satunya adalah makan sahur ternyata memiliki peran aktif dalam membantu menjaga kekebalan dan stamina tubuh. Saat berpuasa tubuh kita tidak mendapatkan asupan gizi selama setengah hari, sehingga makan sahur ini memiliki peran memberikan cadangan gizi selama berpuasa.

Disunnahkan pula saat berpuasa kita mengakhiri waktu sahur, yaitu sesaat menjelang adzan subuh. Mengapa kita disunahkan mengakhirkan waktu makan? Anas r.a. meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit r.a., dia berkata, "Kami makan sahur bersama Rasulullah Saw. kemudian beliau shalat, aku tanyakan (kata Anas), 'Berapa lama jarak antara azan dan sahur?' Beliau menjawab, "Kira-kira 50 ayat membaca Al-Quran" (HR Bukhari dan Muslim)


Keutamaan Dan Manfaat Sahur
credit : rumahkeluargaindonesia.com


Rasulullah Saw. memberikan anjuran untuk melaksanakan makan sahur karena manfaatnya yang begitu besar bagi umatnya yang akan berpuasa. Rasulullah saw. sendiri mencontohkan dengan terbiasa selalu makan sahur saat berpuasa, meskipun hanya sahur dengan segelas air dan beberapa biji kurma.

Dalam riwayat lain dikatakan, "Mintalah pertolongan (tambahan kekuatan) dengan makan sahur untuk berpuasa pada siang hari. Dan, (mintalah pertolongan) dengan menyedikitkan makan pada siang hari untuk bangun pada malam hari" (HR Hakim).

Selain memberikan banyak manfaat, di dalam sahur ada keberkahan.

"Sesungguhnya makan sahur adalah berkah yang Allah berikan pada kalian maka janganlah kalian tinggalkan," demikian sabda Rasulullah Saw. yang diwirayatkan Nasa'i dan Ahmad.

Menurut hadist yang shahih menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda " Makanlah sahur, sungguh di dalam sahur terdapat berkah. HR al-Bukhari, Muslim, al-Tirmidzi, al-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad dari Anas bin Malik.

Menurut Imam Nawawi, "Berkah makan sahur secara dhahir (tampak), yaitu dengan kuatnya badan ketika berpuasa, menjadikannya rajin beribadah, menjadikannya termotivasi ingin menambah lagi amalan puasanya, karena tampak ringan puasa baginya setelah makan sahur, dan inilah makna yang benar dari makan sahur." 

Keberkahan itu menandakan kebaikan yang terus bertambah dan bertambah.  Keberkahan disini juga dapat diartikan dengan adanya kesempatan untuk bangun pada waktu-waktu mustajabnya doa atau waktu dimana mudah dikabulkannya doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus hati, rahmat serta ampunan banyak turun di waktu tersebut. Sehingga muslim yang bagun sahur dan menyempatkan untuk sholat malam, berdoa, berdzikir dan memohon ampun kepada Allah hingga waktu subuh akan mendapat keutamaan.

Makna lain dari keberkahan dalam makan sahur ini adalah telah mengikuti sunnah, diberikan kesempatan untuk berniat berpuasa bagi yang belum sempat berniat sebelumnya, memudahkan bersedekah kepada yang membutuhkan, dan bertambahnya pahala kebaikan / ibadah.

Makna sahur juga bisa menjadi pembeda dengan puasanya ahli kitab.

Puasa juga merupakan bentuk ibadah yang juga diajarkan agama-agama sebelum islam. Namun pada ibadah puasa tersebut tidak mengenal adanya makan sahur yang salah satunya adalah yang dilakukan ahli kitab. Oleh karenanya seorang ahli kitab yang taat juga berpuasa namun tidak mengenal makan sahur dan tidak mengerjakan makan sahur.

"Pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur". Diriwayatkan oleh Muslim, al-Nasa’i, dan Ibnu Hibban dari Amr bin al-ʻAsh, Rasulullah saw

Menjadi karakter Nabi Muhammad Saw bahwa beliau tidak ingin disamakan dengan umat lain seperti Yahudi terutama dalam hal beribadah, seperti kita contohkan saat ini yaitu ibadah puasa berbeda dengan umat lain.

Kita juga tahu sebelumnya bagaimana bedanya puasa antara nabi Musa as. dan puasa nabi Daud as.

Ibadah makan sahur juga akan memelihara kita selalu dalam kebaikan.

Yang terakhir yang perlu kita tahu bahwa hanya dengan makan sahur kita akan mendapat instighfar dari malaikat. Kita tidak mengetahui jumlah sebenarnya berapa malaikat kecuali Allah swt. Dalam Musnad Ahmad, Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari Abu Said al-Khudri, Rasulullah saw pernah bersabda, Makan sahur itu berkah. Jangan sampai kalian tinggalkan meskipun hanya meminum seteguk air. Sungguh Allah dan para malaikat bershalawat bagi orang-orang yang bersahur.

Perlu Ada diketahui jika shalawat berasal dari Allah swt berarti rahmat.

Shalawat berasal dari malaikat bermakna memohonkan ampun.

Shalawat berasal dari manusia berarti doa.

Sekian artikel kali ini semoga dapat membuka wawasan dan menyampaikan ilmu ini dan jika bermanfaat, silahkan share ke teman yang lain agar mereka juga tahu.

Monday, May 29, 2017

Jangan Tidur Setelah Sahur Jika Tidak Mau Seperti Ini, No 6 yang Ditakutkan

Bahaya Tidur Setelah Sahur


Selamat menunaikan ibadah puasa ramadhan 1438 H, bagaimana rasanya sahur pertama? Banyak yang belum terbiasa bangun pagi pada hari biasa, waktu sahur pertama ini mungkin terasa berat dengan rasa kantuk.

Bagi sebagian muslim yang sudah mempersiapkan ibadah puasa dengan baik dan dengan hati senang menjalani ibadah puasa, bangun untuk makan sahur menjadi hal yang sangat menyenangkan dan tidak menghadapi kendala berarti. Namun sebagian muslim lain bangun untuk makan sahur menjadi tantangan tersendiri. Karena apa? hari-hari sebelumnya waktu sahur adalah waktu yang paling enak untuk tidur di sepertiga malam terakhir.

Namun apapun alasannya, sahur sangat penting sebagai kunci energi untuk menjalani puasa seharian. Tetapi masih ada juga sebagian orang yang karena tidak bisa menahan kantuknya, setelah makan sahur kembali tidur lagi. Hal itu sangat tidak baik untuk kesehatan dan mengganggu sistem kerja organ pencernaan. Jika hal ini sering dilakukan maka juga akan berakibat buruk bagi kesehatan dan menyebabkan beberapa penyakit dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Ada baiknya mari kita simak apa saja dampak buruk jika kita tidur setelah makan sahur.


Bahaya Tidur Setelah Makan Sahur


1. Kenaikan Berat Badan / Obesitas


Obesitas akibat tidur setelah sahur

Akibat dari tidur setelah sahur adalah naiknya berat badan. Meskipun puasa tidak makan dan minum tetapi mengapa malah menimbulkan kenaikan berat badan? Tidur setelah makan sahur akan menyebabkan tubuh kita menyimpan kalori dan lemak lebih banyak. Hal itu akan lebih diperparah jika makanan yang dikonsumsi saat sahur dan buka puasa adalah makanan-makanan yang mengandung lemak tinggi atau makanan yang digoreng. Hal ini bisa berakibat buruk bagi kesehatan apalagi bagi Anda yang sedang menjalani program diet dan ingin tampil langsing.

2. Tenggorokan Terasa Terbakar / GERG


Tenggorokan panas akibat tidur setelah sahur

Tidur setelah sahur juga dapat menyebabkan GERG (Gasteophageal Reflux) dimana GERG ini juga disebabkan oleh heart burn. Rasa yang panas pada area dalam kerongkongan. Akibat lainnya yaitu area dada seperti terbakar. Jika Anda sudah merasakan seperti ini sebaiknya segera periksakan ke dokter.


3. Makanan Tidak Tercerna Sempurna


Jika Anda sering tidur setelah kenyang makan sahur adalah kerja lambung dan kerja usus lebih melambat saat kita sedang tidur. Dampaknya makanan yang sudah banyak kita konsumsi tersebut tidak tercerna secara sempurna. Dampak buruknya dan bahayanya adalah sisa makanan yang tidak tercerna sempurna tersebut akan membusuk di dalam usus. Penumpukan makanan yang membusuk tersebut dapat meningkatkan produksi gas racun amonia yang berbahaya bagi tubuh kita. Jika Anda tidak mau hal ini terjadi maka rubah kebiasaan tidur setelah makan sahur ya.

4. Peningkatan Bakteri Jahat di Usus


Selain meningkatnya gas beracun akibat pembusukan sisa makanan yang tidak tercerna sempurna, juga menyebabkan meningkatnya bakteri jahat di usus. Bakteri miskin oksigen atau biasa disebut bakteri anaerob akan dengan mudah mendominasi tubuh. Hasil dari metabolisme yang dihinggapi bakteri ini akan bersifat asam sehingga membuat asam lambung meningkat pula, sehingga peluang terjadi sakit maag juga sangat tinggi.

5. Liver Bekerja Lebih Berat


Setelah hasil metabolisme tubuh dominan asam menyebabkan timbunan asam nitrit yang sangat berbahaya bagi kesehatan hati. Karena hati akan sangat sulit dan sangat berat mengolah asam nitrit. Jika hal ini berlangsung lama maka bukan tidak mungkin Anda akan mudah terkena penyakit hati. Nah, jika Anda lebih menyayangi hati Anda agar tidak cepat rusak, maka perbaiki pola sahur Anda.

6. Meningkatkan Potensi Serangan Jantung


Serangan jantung akibat tidur setelah sahur


Selain meningkatkan berat badan / obesitas, penyakit berat lainnya seperti penyakit jantung juga berpotensi dapat menyerang. Lemak serta kalori yang tidak terbakar sempurna karena tidak melakukan aktivitas akan berpotensi menyumbant pembuluh darah. Penyumbatan pembuluh darah inilah yang dapat memicu serangan jantung. Oleh karenanya, Waspadalah mengingat penyakit jantung merupakan penyakit yang berbahaya yang dapat merenggut nyawa kapan saja. Penyakit berat lain akibat menumpuknya kalori dan lemak dalam tubuh adalah kolesterol tinggi.

7. Diabetes


Penyakit diabetes ini akan muncul karena terjadinya obesitas tersebut. Kegemukan karena menumpuknya kalori dan lemak pada tubuh akan disusul oleh penyakit diabetes. Maka kalau Anda tidak ingin terserang penyakit ini jangan terbiasa tidur setelah sahur.

Bagaimana? Masih ingin tidur setelah sahur?

Sunday, May 28, 2017

Ini Hukumnya Berhubungan Saat Berpuasa

Hukum Berhubungan Saat Puasa


Romantisme hubungan suami istri sebenarnya tidak terhalang ketika berpuasa. Misalnya, melakukan ciuman, rabaan, dan belaian. Hubungan intim yang telah legal hukumnya halal bahkan bisa bernilai pahala. Tetapi ketika puasa, bersetubuh atau bersenggama (hubungan intim suami istri) menjadi terlarang bahkan menjadikan puasa seorang muslim batal. Karena kehormatan bulan Ramadhan, pelanggaran tadi dihukumi dengan hukuman yang berat dalam kafaroh.

Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ . قَالَ « مَا لَكَ » . قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِى وَأَنَا صَائِمٌ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا » . قَالَ لاَ . قَالَ « فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ » . قَالَ لاَ . فَقَالَ « فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا » . قَالَ لاَ . قَالَ فَمَكَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِىَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ – وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ – قَالَ « أَيْنَ السَّائِلُ » . فَقَالَ أَنَا . قَالَ « خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ » . فَقَالَ الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا – يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ – أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِى ، فَضَحِكَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ « أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ »


“Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasulullah, celaka aku.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang terjadi padamu?
Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.”
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?
Pria tadi menjawab, “Tidak”.
Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?
Pria tadi menjawab, “Tidak”.
Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?
Pria tadi juga menjawab, “Tidak”.
Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas diam.
Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,“Di mana orang yang bertanya tadi?
Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.
Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.”
Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku. ”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya.
Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu.”
(HR. Bukhari no. 1936 dan Muslim no. 1111).

Laki-laki mengatakan bahwa dirinya itu binasa, yaitu karena telah menyetubuhi istrinya di siang hari Ramadhan.

Hal ini dilihat dari riwayat Umar bin Abi Salamah r.a., bahwa suatu hari dia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., "Apakah orang yang berpuasa boleh mencium istrinya?"

Rasulullah Saw. berkata kepadanya, "Tanyakan ini kepada Ummu Salamah."

Ummu Salamah pun menggambarkannya bahwa Rasulullah Saw. sendiri pernah melakukan itu. Kemudian berkatalah Umar, "Wahai Rasulullah, Allah telah mengampuni untukmu dosamu yang telah lalu dan yang akan datang."

Maka, berkatalah Rasulullah Saw. kepadanya, "Adapun diriku, demi Allah, sesungguhnya aku orang yang paling bertakwa dan juga paling takut kepada Allah daripada kalian" (HR Muslim).


Ini Hukumnya Berhubungan Saat Berpuasa


Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Umar bin Khaththab r.a. pernah mencium istrinya sementara ia berpuasa.

Kemudian dia mendatangi Rasulullah Saw. dan berkata, "Aku telah melakukan suatu perkara besar. Aku mencium istriku padahal aku sedang berpuasa."

Rasulullah Sa. berkata, "Apa pendapatmu seandainya engkau berkumur-kumur dengan air, sedangkan engkau sedang berpuasa?"

Aku pun menjwab, "Itu tidak mengapa."

Rasulullah Saw. pun menjawab, "Kalau begitu, untuk apa (bertanya)?" (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Hubungan Intim di Siang Hari Saat Puasa


Dilihat dari riwayat diatas menunjukkan tentang kebolehan suami dan istri untuk bercumbu meskipun saat puasa, dan meski dibulan ramadhan dengan catatan mampu mengendalikan diri.

Namun, jika dirasa tidak mampu mengendalikan diri dan dikhawatirkan terjadi jimak, sebaiknya hal itu dihindari.

Karena, menjaga perintah Allah untuk menjalankan puasa ramadhan hukumnya wajib, sementara yang wajib itu lebih utama didahulukan dari pada melakukan perbuatan yang sifatnya halal, tetapi berpotensi menimbulkan keharaman (puasa batal karena jimak).

Beberapa faedah yang dapat diambil adalah :

  1. Wajib bagi yang berhubungan intim di siang bulan Ramadhan untuk membayar kafaroh seperti yang disebutkan dalam hadits: (1) membebaskan satu orang budak, (2) jika tidak diperoleh, berpuasa dua bulan berturut-turut, (3) jika tidak mampu, memberi makan kepada 60 orang miskin.
  2. Pembatal puasa lainnya tidak ada kewajiban kafaroh seperti di atas seperti misalnya ada yang melakukan onani di siang hari Ramadhan.
  3. Yang terkena hukuman adalah bagi yang melakukan hubungan intim di siang hari Ramadhan, bukan di bulan lainnya. Bentuk kafaroh ini untuk menebus kesalahan di bulan Ramadhan sebab mulianya bulan tersebut. Kafaroh ini hanya berlaku bagi puasa di bulan Ramadhan, namun tidak berlaku pada puasa qodho’ dan puasa sunnah lainnya. Pendapat ini dianut oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di -semoga Allah merahmati beliau-.
  4. Bersetubuh di siang hari mendapat dosa besar karena dalam hadits disebut sebagai suatu kebinasaan.
  5. Kasus yang terjadi dalam hadits amatlah menakjubkan karena ia mengadu kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam keadan takut, namun ia balik pulang dalam keadaan senang karena membawa kurma.
  6. Tertawa dalam keadaan yang pas, itu terpuji dan menunjukkan baiknya akal serta menandakan akhlak yang lemah lembut. Sebaliknya tertawa dalam keadaan yang tidak pada tempatnya, malah menunjukkan kurangnya akal.
  7. Jika seseorang tidak mampu menunaikan kafaroh lantas orang lain yang menunaikannya, maka itu dianggap sah. Dan kafarohnya bisa diberikan kepada yang tadi punya kewajiban kafaroh. Namun hadits ini bukan menjadi dalil bahwa orang yang tidak mampu menjadi gugur kewajibannya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membayarkan kafarohnya. Kafaroh itu seperti halnya utang, bisa gugur jika pemberi utang menggugurkannya.
  8. Jika seseorang berbuat dosa, maka hendaklah ia segera bertaubat kepada Allah, termasuk pula dalam menunaikan kafaroh.
  9. Sekedar memberi makan walau tidak dibatasi kadarnya dibolehkan. Kalau sudah mengenyangkan 60 orang seperti kasus di atas, maka sudah cukup.


Demikian penjelasan kami mengenai Hukum Berhubungan saat Berpuasa, semoga dapat memberikan tambahan wawasan dalam berpuasa. Silahkan share agar teman muslim yang lain juga tahu.